SEJUMLAH orang hadir dalam acara tersebut. Mereka datang dari beragam latar belakang: mahasiswa, jurnalis, pegiat komunitas, hingga keluarga korban demonstran pasca-Agustus 2025 yang ditangkap, ditahan, dan hingga kini masih menjalani proses persidangan.
Semua meluangkan waktu untuk berdoa bersama sekaligus meneguhkan solidaritas. Lantunan tahlil menggema di hadapan puluhan pasang telinga. Para hadirin menyimak dengan khidmat. Doa-doa itu mengalir, beriringan dengan ingatan tentang Alfarisi yang terus berkelindan di benak kawan-kawan dan keluarganya.
Mereka tak saling mengenal dengan almarhum, namun solidaritaslah yang merekatkan. Usai pembacaan tahlil, para hadirin berkumpul untuk menyaksikan penampilan Slamet Gaprak, Aktor dari Teater Api. Ia membawakan sebuah pertunjukan bertajuk Interrogation Room.
Gaprak, sapaan akrabnya, membagikan lembaran kertas kosong kepada para peserta. Mereka diminta menuliskan kegelisahan, kecemasan, kritik, harapan, atau refleksi lain terkait kondisi negara saat ini.
Setelah itu, Gaprak tampil dengan dada telanjang. Ia melumuri wajahnya dengan segumpal tanah liat basah, mengoleskannya berulang kali hingga gumpalan lempung menyelimuti sebagian besar kepalanya. Tak berselang lama, ia menancapkan lilin-lilin merah di atas lempung tersebut, lalu menyalakannya.
Sambil lilin-lilin itu menyala, Gaprak menempelkan lembaran-lembaran kertas berisi tulisan para hadirin di sekeliling kepalanya. Ia kemudian duduk di atas kursi, menundukkan kepala dengan lesu, sesekali menggeram. Adegan tersebut ia pertahankan selama sekitar lima hingga sepuluh menit.
Ruang Gelap Interogasi
Gaprak menjelaskan, karyanya berangkat dari gagasan tentang sebuah perjamuan. Di dalam perjamuan itu terkandung doa, tujuan, dan harapan. Namun, ketika gagasan tersebut diterjemahkan dalam bentuk visual, proses kreatif yang dijalani kerap mengalami distorsi dan pengembangan, sehingga perjamuan itu tidak lagi hadir dalam bentuk utuh sebagaimana awalnya.
“Karya ini juga berangkat dari refleksi dan respons atas peristiwa yang terjadi sore tadi, yakni doa bersama untuk teman-teman yang telah almarhum di dalam penjara, terkait kasus tahanan politik,” ujar Gaprak usai pertunjukan.
Aksi teatrikal ini merupakan refleksi Gaprak yang ia rangkum dan cerna dari setiap laku dan kesaksian orang-orang yang hadir bersolidaritas, berdoa bersama untuk Alfarisi. Baginya, perjumpaan ini adalah perjamuan dari masing-masing orang yang berempati kepada Alfarisi dan perjuangannya.
“Saat saya merefleksikan dan merenungi kesaksian-kesaksian keluarga, pengalaman tersebut saya coba aplikasikan ke dalam karya seni melalui sebuah perjamuan,” imbuhnya.
Ketika mencermati persoalan ini, Gaprak melihat bahwa suguhan-suguhan yang disajikan dalam perjamuan itu juga menjadi hal yang menarik untuk dimaknai.
Ia mencoba merasakan bagaimana menjadi seorang korban saat berada di ruang interogasi yang pengap: tidak dapat melihat apa pun, bahkan bernapas pun hanya mengandalkan segelintir udara yang bisa masuk.
“Hal-hal tersebut saya lakukan dengan menutup kepala menggunakan tanah liat, dan berbagai perlakuan lain sebagai bagian dari proses penciptaan karya,” tegasnya.
Ketika melakukan perjuangan, lanjut Gaprak, kita kerap berada dalam kondisi gelap untuk mencari ruang-ruang terang. Oleh karena itu, karya ini ia dedikasikan kepada teman-teman yang berjuang di jalan apa pun, dengan tujuan apa pun, demi mencapai kebenaran.
“Di dalam setiap perjuangan, selalu ada ruang-ruang gelap yang harus dilalui, termasuk ruang-ruang interogasi,” pungkasnya.
Acara doa bersama dan obituari untuk Alfarisi berakhir sekitar pukul 19.30 WIB. Para hadirin berpamitan pulang, namun doa dan ingatan tentang Alfarisi terus mengalir, melampaui batas waktu dan ruang.
Doa Bersama dan Solidaritas Selamanya
Fatkhul Khoir, Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya mengatakan, acara ini digelar spontan. Ia dan sejumlah aktivis, seniman dan keluarga tahanan politik, menginisiasi doa bersama ini.
“Kita harus mengenang hidup dan matinya Alfarisi. Kita tidak mengenalnya, tapi memahami bagaimana ia berjuang selama ini. Doa bersama ini, mendoakan Alfarisi sekaligus semua tahanan politik yang sampai saat ini masih berjuang. Doa bersama dan solidaritas selamanya,” ujar Fatkhul.
Ia mendesak negara bertanggungjawab atas kematian Alfarisi. Pasalnya, pemuda 21 tahun itu tewas saat ditahan di Rutan Medaeng karena terlibat demonstrasi besar pada akhir Agustus lalu. Versi Rutan Medaeng, Alfarisi sempat kejang sebelum menghembuskan nafas terakhir pada Selasa, 30 Desember 2025, sekitar pukul 06.00 WIB.
“Kematian Alfarisi membuka tabir bagaimana sistem pemasyarakatan dan rumah tahanan. Ada tekanan mental dan fisik yang membuat tahanan seperti Alfarisi tidak terlindungi hingga meninggal dunia. Negara harus bertanggungjawab,” pungkasnya.